Rabu, 06 Februari 2008

2) 1945 V/S NOW AND FUTURE


Bisa di bilang bangsa kita di jajah lagi, tetapi oleh kita sendiri kali ini, well setidaknya menurut saya, 'ya kan karena terkontaminasi oleh dunia luar' katanya... Tradisi, karakter kita sebagai bangsa indonesia pelan-pelan luntur, contoh kecil kita perhatikan kalau kita ke kawinan-kawinan, they rather wear that long white dress, all the friends dancing with their wine on their hands at the dance floor following the dj music rithem and their tipsy situation... gak mau pake adat-adat ya, atau baju dodotan Nyai Roro Kidul itu hehe... Apapun alasannya, we let them happen, gak masalah itu semua "modernisasi" , i just wish kita tetap punya tembok atau batas mana yang kita ambil atau tidak... SO SAD... makanya kita di injak-injak sama luar dan di sepelekan, wong kita sendiri begitu terhadap bangsa kita sendiri...

13 komentar:

Riri Audiya mengatakan...

yes, i did it so.
rasanya kita itu malu kalau pake baju daerah. ga tau kenapa.
wajar aja kalo budaya kita diambil sama negara tetangga.

bay de wai, salam kenal ya mba wulan.

Riri Audiya mengatakan...

kok blognya pk blogger?

knp ga pk wordpress aja?

kalo mau pk wordpress aku bisa bantu kok. kebetulan ada hosting nganggur.

Aria mengatakan...

Yup..dijajah! Dijajah sama sinetron, dijajah sama boyband, dijajah sama film/drama korea, dijajah sama infotainment, dijajah sama pejabat sendiri, dll ;)

Rany mengatakan...

Yup..setuju banget ! Padahal negara kita punya nilai budaya yang tinggi..tapi sayangnya ga ada yang begitu peduli buat ngejaga n melestarikan. Kebudayaan yang kita punya adalah aset yang sangat berharga untuk anak cucu kita kelak... : )

Adhi P. mengatakan...

Salam kenal ya...
Inilah dampak buruk dari arus globalisasi... Sedih juga sih...
Padahal Jepang sendiri yang notabene Negara Maju masih tetap melestarikan budayanya...

Danang mengatakan...

memang menyedihkan nasinalisme bangsa ini, salut buat bmak wulan tentang tulisannya...
terus tulis yang banyak, biar komentarnya kita banyak juga...
Ngga Sabar Mode : ON

bedh mengatakan...

huhuhu melestarikan budaya nggak selalu mesti pake baju keadat kemana-mana kan?

:D
blognya keren juga.

ASMARANING mengatakan...

Wah ga nyangka,asli ga nyangka, emang garis darah dan warna kulit ga jadi jaminan seseorang itu memiliki JIWA SEORANG PUTRI NUSWANTARA,kadang yah cuma wadahnya saja yg tampak "indonesia tapi ISINYA,maaf2 nih ya.JAJAHAN alias SUNYA/KOSONG dari API PRIBADI!!.
Karenanya,yah saya percaya,masih ada HARAPAN bagi bangsa kita di depan nanti,karena masih ada, manusia2 seperti wulan guritno ini!
Salam sama putrinya yah.....semoga jadi srikandhi nuswantara!!:)Jujur,tanpa tedeng aling2,blak2kan tapi BENER!!!

Suci mengatakan...

Hi salam kenal .... wau seru abis blognya.Boleh kan jadi ku add alamat blog mu ke blogku....thaks and sukses untuk wulan ....

defir mengatakan...

"MULAILAH DARI DIRI SENDIRI @ KELUARGA ".............bagaimana ???

arifin mengatakan...

ya...ya...ya...

aq setuju bgt tuh, sehrsnya kita sendiri yg menjaga budaya kita..

bknnya kita melestarikan budaya org lain... :(

salam ya mbak untuk org2 terdekatnya
arifin tgg postingan yg lain....

wassalam :
www.arifinowen.com

ab mengatakan...

"Bisa di bilang bangsa kita di jajah ... oleh kita sendiri ... 'ya kan karena terkontaminasi oleh dunia luar' katanya... Tradisi, karakter kita sebagai bangsa indonesia pelan-pelan luntur, contoh kecil kita perhatikan kalau kita ke kawinan-kawinan, they rather wear that long white dress, ..."

Mbak Wulan, apakah penggunaan bahasa Inggris campur Indonesia Mbak Wulan bukan salah satu bentuk "terkontaminasi" tingkat ringan dunia luar secara bawah sadar? :)

Asmara Hening mengatakan...

Hueheuehue....tajem komentarnya sahabat!!!(ab).Tapi yah kan wulan emang dilahirkan dari perpaduan dua kebudayaan yang berbeda,jadi sebenarnya masih wajar jika lidahnya masih berbau jengkol sedangkan otaknya kentang.Nah kalo udah asli2 sini,kulit sawo mateng,tapi ngomongnya campur aduk bhs si malih sama bhs si rambo,itu yang rada aneh,sungguh2 bisa dibilang jiwa terjajah yang cuma sekedar anut grubyug ora weruh ing rembug.